Kamis, 24 Oktober 2013

Kekuasaan dan Pengaruh








Konsep Kekuasaan dan Pengaruh
Pengertian Kekuasaan
Menurut Max Weber Kekuasaan adalah suatu kemungkinan yang membuat seorang aktor didalam suatu hubungan sosial berada dalam suatu jabatan untuk melaksanakan keinginannya sendiri dan yang menghilangkan halangan.
Menurut Walterd Nord, Kekuasaan adalah sebagai suatu kemampuan untuk mempengaruhi aliran energi dan dana yang tersedia untuk mencapai suatu tujuan yang berada secara jelas dari tujuan lainnya.
Menurut Bierstedt, Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempergunakan kekuatan.
Menurut teori demokrasi klasik, Kekuasaan adalah organisasi-organisasi politik berada ditangan mayoritas anggota organisasi,seperti: Kekuasaan dipandang sebagai suatu kesatuan dengan otoritas, dan otoritas didasarkan pada kemauan mayoritas tersebut sebagaimana diungkapan melalui proses pemilihan.
Konsep tradisional mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan perorangan untuk menentukan dan membatasi hasil-hasil. Ada pula yang melihat kekusaan sebagai pengaruh yang diharapkan.
Riker berpendapat bahwa kekuasaan adalah kemampuan menggunakan pengaruh sedangkan alasan adalah penggunaan pengaruh yang sebenarnya.
Boulding(1989), mengemukakan gagasan bahwa kekuasaan itu dalam arti luas, sampai tingkat mana dan bagaimana kita memperoleh yang kita inginkan. Bila hal ini diterapkan pada lingkungan organisasi, ini adalah masalah penentuan di seputar bagaimana organisasi memperoleh apa yang diinginkannnya dan bagaimana pada pemberi andil dalam organisasi memperoleh yang mereka inginkan. Dalam hal ini, kekuasaan dipandang sebagai kemampuan perorangan atau kelompok untuk mempengaruhi, memberi perintah, dan mengendalikan hasil-hasil organisasi.  
   Konsep Kekuasaan
Gagasan tradisional tentang kekuasaan memfokuskan pada individu dan pelaksanaan
kekuasaannya. French dan Raven mendasarkan kekuasaan A terhadap B pada lima jenis
kekuasaan yaitu :
a.    Kekuasaan memberi ganjaran(Reward Power), dapatkah A memberikan ganjaran yang dapat dirasakan oleh B.
b.    Kekuasaan yang memaksa(Coersive Power), dapatkah A memberikan sesuatu hukuman yang dianggap hukuman oleh B.
c.    Kekuasaan yang sah(Legitimate Power), apakah B percaya bahwa A memiliki hak untuk mempengaruhi B dan B harus menerimanya, mungkin penerimaan terhadap struktur sosial atau nilai-nilai budaya.
d.    Kekuasaan referen(Referent Power), apakah B mengenal A, apakah B ingin seperti A, apakah B memiliki keinginan merasakan satu kesatuan dengan A.
e.    Kekuasaan ahli(Expert Power), apakah B percaya bahwa A memiliki pengetahuan atau keahlian khusus yang berguna atau diperlukan untuk kebaikan atau untuk memenuhi harapan B.
2.    Pengaruh
Daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.
Jadi, inti dari konsep kekuasaan dan pengaruh adalah suatu konsep yang saling berkaitan dan merupakan sikap yang harus dimiliki pemimpin.
Pengaruh : Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang yang mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pimpinan. Pengaruh ini menjadikan sang pemimpin diikuti dan membuat orang lain tunduk pada apa yang dikatakan sang pemimpin.
Kekuasaan/power : Seorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain karena dia
memiliki kekuasaan/power yang membuat orang lain menghargai keberadaannya. Tanpa kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki sang pemimpin, tentunya tidak ada orang yang mau menjadi pendukungnya. Kekuasaan/kekuatan yang dimiliki sang pemimpin ini menjadikan orang lain akan tergantung pada apa yang dimiliki sang pemimpin, tanpa itu mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Hubungan ini menjadikan hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak sama-sama saling diuntungkan.
A.   Bentuk dan Hasil Pengaruh
1.    Kendali atas proses pembuatan keputusan (pfeffer&salanick,1974)
Dalam organisasi, ketua menentukan apakah suatu keputusan akan dibuat dan dilaksanakan atau tidak. Hakim memimpin sidang pengadilan karena ia mempunyai kendali atas jalannya sidang dan keputusan atau vonis yang akan dijatuhkan. Kepemimpinan seorang presiden juga bersumber pada kekuasaan politik karena sebuah undang-undang yang sudah disetujui parlemen baru berlaku jika sudah mendapat tanda tangannya.
2.    Koalisi (Stevenson, Pearce&Porter,1985)
Kepemimpinan atas dasar sumber kekuasaan politik ditentukan juga atas hak atau kewenangan untuk membuat kerjasama dengan kelompok lain. Pemilik perusahaan berhak melakukan merger dengan perusahaan lain. Kepala suku Indian mengisap pipa perdamaian dengan kepala suku lainya. Presiden menyatakan perang atau damai dengan Negara lain.
3.    Partisipasi (Pfeffer, 1981)
Pemipin mengatur partisipasi anggotanya, siapa yang boleh berpartisipasi, dalam bentuk apa tiap anggota itu berpartisipasi, dan sebagainya.
Berdasarkan berbagai sumber kekuasaan tersebut, French&Raven(1959) menyusun sebuah kategorisasi sumber kekuasaan ditinjau dari hubungan anggota (target) dan pemimpin(agen) sebagaimana tampak pada tabel.


Kekuasaan ganjaran
Target taat agar ia mendapat ganjaran yang diyakininya, dikuasai atau dikendalikan oleh agen
Kekuasaan koersif (pemaksaan)
Target taat agar ia terhindar dari hukuman yang diyakininya diatur oleh agen
Kekuasaan resmi (legitimate)
Target taat karena ia yakin bahwa agen mempunyai hak untuk membuat ketentuan atau peraturan dan bahwa target mempunyai kewajiban untuk taat
Kekuasaan keahlian (expert)
Target taat karena ia yakin atau percaya bahwa agen mempunyai pengetahuan kusus tentang cara yang terbaik untuk melakukan sesuatu
Kekuasaan rujukan
Target taat karena ia memuja agen atau mengidentifikasi dirinya dengan agen dan mengharapkan persetujuan agen
  



A.   Jenis Sumber Kekuasaan
1.    Menurut Amitae Etzione, ada dua macam kewibawaan :
a.    Position Power(Kewibawaan Jabatan) adalah suatu kewibawaan yang timbul karena kedudukan atau hirarki jabatan formal.
Cirinya :
-          Mengalir dari atas ke bawah
-          Ditandai berbagai kemungkinan :
Negatif : ancaman, hukuman, penolakan, penangguhan
Positif : pemberian hadiah, kenaikan gaji, promosi, pujian.
b.    Personal power (kewibawaan pribadi)
Kewibawaan yang menimbulkan kesadaran untuk menerima pengaruh karena dirasakan benar dan baik, sehingga bawahan merasa bersatu dengan atasannya.
Cirinya : Mengalir dari atas ke bawah.
Sifatnya: coersive power, renu merative power, normative.
2.    Menurut teori Jhon P. French dan Bertram Raven ada lima sumber kewibawaan :
a.    Legitimate power ( kewibawaan formal )
Kekuasaan yang bersumber pada formalitas yang diberikan oleh suatu organisasi. Dimana kebijaksanaan pimpinan tidak pernah dipersoalkan kebenarannya, bawahan terikat pada kedudukan.
b.    Reward power
Kekuasaan yang didapat karena sering memberi hadiah, penghargaan.
c.    Coersive power
Kekuasaan yang timbul karena adanya hak untuk mengontrol, menilai, mengendalikan terhadap tingkah laku bawahan dengan sanksi berupa ancaman, hukuman pemecatan, dan lain – lain.
d.    Referent power
Kewibawaan yang muncul karena pemimpin memberikan keteladanan yang positif.
e.    Expert power
Kewibawaan yang timbul karena seorang pemimpin memiliki keahlian yang didapat melalui pendidikan dan pengalaman.
3.    Menurut teori Raven L. Kruglanski menambahkan :
Kekuasaan informasi
Muncul karena seorang pemimpin memiliki informasi yang sangat dibutuhkan oleh bawahannya.
4.    Menurut Hersey L. Goldsmith menambahkan :
Connection power
Wibawa yang dimiliki seorang pemimpin karena memiliki hubungan banyak dengan orang lain, terutama orang penting.
5.    Menurut teori Weber, dalam kaitan kewibawaan dan authority kita juga mengenal pendapat Weber yang membagi 3 macam Authority. Yaitu :
a.    Rational legal authority
Suatu kekuasaan untuk memaksakan kepatuhan atas dasar undang – undang atau peraturan yang berlaku.
b.    Traditional authority
Suatu otoritas yang didasarkan atas pewarisn nilai 0 nilai tradisional pada seseorang. Misalnya kepala adat yang berkewajiban menjaga nilai tradisional untuk dilaksanakan masyarakat.
c.    Charismatic authority
Suatu otoritas yang dimiliki seseorang karena ia mempesona orang banyak sehingga dipatuhi diikuti orang lain.
Kalau disimpulkan macam–macam wibawa tersebut dapat diklasifikasikan  sebagai berikut :
a.    Position power
1.    Legitimate power (kewibawaan formal)
Kekuasaan yang bersumber pada formalitas yang diberikan oleh suatu organisasi. Dimana kebijaksanaan pimpinan tidak pernah dipersoalkan kebenarannya, bawahan terikat pada kedudukan.
2.    Coersive power
Kekuasaan yang timbul karena adanya hak untuk mengontrol, menilai, mengendalikan terhadap tingkah laku bawahan dengan sanksi berupa ancaman, hukuman pemecatan, dan lain – lain.
3.    Reward power
Kekuasaan yang didapat karena sering memberi hadiah, penghargaan.
4.    Rational legal authority
Suatu kekuasaan untuk memaksakan kepatuhan atas dasar undang–undang atau peraturan yang berlaku.
b.    Personal power
1.    Referent power
Kewibawaan yang muncul karena pemimpin memberikan keteladanan yang positif.
2.    Expert power
Kewibawaan yang timbul karena seorang pemimpin memiliki keahlian yang didapat melalui pendidikan dan pengalaman.
3.    Information power
Muncul karena seorang pemimpin memiliki informasi yang sangat dibutuhkan oleh bawahannya.
4.    Connection power
Wibawa yang dimiliki seorang pemimpin karena memiliki hubungan banyak dengan orang lain, terutama orang penting.
5.    Persuasif power
Wibawa yang timbul akibat atasan yang mampu melakukan tindakan persuasif kepada bawahannya agar bawahannya semangat dalam bekerja.
6.    Traditional power
Suatu otoritas yang didasarkan atas pewarisan nilai–nilai tradisional pada seseorang.
Sumber :   
Covey, Stepehen R, The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang sangat efektif), edisi revisi, alih bahasa Drs, Budijanto, Binarupa Aksara, Jakarta, 1997Jones, Gareth R. Organizational Theory : Text and Cases, Addison Wesley, 1995
Robbins, Stepehen P. Managing Today, 2nd Ed, Prentice Hall, 2000
Stoner, James A.F., et al., Management, 6th Ed., Prentice Hall Inc, Englewood Cliffs, 1995
 


Sumber :
Covey, Stepehen R, The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang sangat efektif), edisi revisi, alih bahasa Drs, Budijanto, Binarupa Aksara, Jakarta, 1997
Jones, Gareth R. Organizational Theory : Text and Cases, Addison Wesley, 1995
Robbins, Stepehen P. Managing Today, 2nd Ed, Prentice Hall, 2000
Stoner, James A.F., et al., Management, 6th Ed., Prentice Hall Inc, Englewood Cliffs, 1995